Over

120,000

Worldwide

Saturday - Sunday CLOSED

Mon - Fri 8.00 - 18.00

Call us

 

CORONA DALAM PANDANGAN SOSIOLOGIS

Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.

Pada Januari 2020 lalu, dunia digemparkan dengan temuan kasus wabah virus corona yang diduga sumber asalnya dari Kota Wuhan, Cina. Tak hanya kehidupan sosial-ekonomi negara Cina yang berimbas atas wabah virus corona ini, negara-negara lain pun ikut terkena imbasnya. Indonesia, salah satunya.

Berdasarkan data dari Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE tertanggal 3 Maret 2020, tercatat kasus wabah virus corona mencapai 89.254 kasus dan yang dinyatakan meninggal ada 3.048 kasus, serta 45.393 kasus yang dapat dipulihkan yang tersebar diberbagai dunia.

Di Indonesia, per tanggal (19/3) total jumlah korban positif COVID-19 yang meninggal dunia secara nasional, dari yang semula 19 orang menjadi 25 orang. Jumlah peningkatannya ada 6 pasien positif COVID-19 meninggal dunia.

Saat awal ramai isu wabah virus corona, masyarakat Indonesia merespon fenomena global ini dengan berbagai reaksi. Hingga akhirnya pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi menyatakan bahwa ada dua warga Indonesia yang positif terjangkit virus corona. Rupanya hal ini mempengaruhi situasi dan kondisi psikologis dan sosiologis masyarakat Indonesia.

Anne Kerr dalam bukunya yang berjudul  “Genetics and Society: A Sociology of Disease” menjelaskan bahwa fenomena wabah penyakit di masyarakat dapat membuat masyarakat mengalami kecemasan (anxiety) dan ketakutan (fear).

 

Disorganisasi dan disfungsi sosial

 

Pada awal sebelum Presiden Jokowi menyatakan ada warga Indonesia yang positif terjangkit virus corona, masyarakat Indonesia lebih dominan memiliki rasa cemas. Namun kondisi kecemasan itu kini berubah menjadi ketakutan karena wabah virus corona sudah terjadi di Indonesia.

Sebenarnya rasa cemas dan ketakutan pada diri masyarakat atas wabah virus corona suatu yang manusiawi. Namun hal ini jika tidak diatasi, secara sosiologis akan menimbulkan disorganisasi dan disfungsi sosial di masyarakat. Mengapa?

Disorganisasi pada masyarakat akan mengarah pada situasi sosial yang tidak menentu. Sehingga dapat berdampak pada tatanan sosial di masyarakat. Wujud nyatanya berupa prasangka dan diskriminasi.

Hal ini bisa dilihat dari berbagai pemberitaan di media mengenai reaksi masyarakat saat ada warga Indonesia positif terjangkit virus corona. Misalnya, ada masyarakat yang mulai membatasi kontak sosialnya untuk tidak menggunakan angkutan umum, transportasi online, dan menghindari berinteraksi diruang sosial tertentu (seperti pasar dan mall) karena kuatir tertular virus corona.

Berawal dari prasangka, akhirnya dapat muncul sikap diskriminasi. Sikap diskriminasi yang paling nyata terjadi berupa kekerasan simbolik. Misal, saat individu X berada di ruang sosial tertentu tiba – tiba melihat ada individu Y yang berada di dekatnya bersin-bersin dan batuk, individu X tiba – tiba segera menjauh karena merasa kuatir individu Y terjangkit virus corona. Padahal individu Y hanya mengalami flu biasa.  Sikap diskriminasi lainnya lagi, seperti tidak mau menolong orang lain secara kontak fisik dengan orang yang diduga terjangkit virus corona.

Selain disorganisasi sosial, disfungsi sosial juga terjadi akibat rasa takut atas wabah virus corona. Disfungsi sosial membuat seseorang atau kelompok masyarakat tertentu tidak mampu menjalankan fungsi sosialnya sesuai dengan status sosialnya. Hal yang paling nyata bisa kita lihat dibeberapa pemberitaan media atas reaksi para tenaga kesehatan (perawat dan dokter) yang mulai mengalami rasa takut akan terjangkit virus corona saat mereka memberikan pelayanan perawatan (caring) maupun pengobatan (curing) pada pasien yang diduga bahkan terjangkit virus corona. Rasa takut ini membuat para tenaga kesehatan tidak maksimal menjalankan fungsi sosialnya. Contoh lainnya lagi, individu sebagai makhluk sosial mulai membatasi kontak sosialnya dengan tidak mau menolong orang yang belum tentu positif terjangkit virus corona.

Disfungsi sosial membuat individu justru mengalami gangguan pada kesehatannya. Dalam perspektif sosiologi kesehatan, kondisi sehat jika secara fisik, mental, spritual maupun sosial dapat membuat individu menjalankan fungsi sosialnya. Jika kondisi sehat ini terganggu – dalam kasus ini terganggu sosialnya. Tentu individu ini dinyatakan sakit.

Kondisi sakit di sini sebagaimana yang dikemukakan Talcott Parsons (1951) dalam bukunya “The Social System”, bahwa ia tidak setuju dengan dominasi model kesehatan medis dalam menentukan dan mendiagnosa individu itu sakit. Bagi Parsons, sakit bukan hanya kondisi biologis semata, tetapi juga peran sosial yang tidak berfungsi dengan baik. Parsons melihat sakit sebagai bentuk perilaku menyimpang dalam masyarakat. Alasannya karena orang yang sakit tidak dapat memenuhi peran sosialnya secara normal dan karenanya menyimpang dari norma merupakan suatu yang konsensual. Lalu apa wujud kondisi sakit secara sosial ini? Disorganisasi dan disfungsi sosial.

 

#as

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: