Biopori Ala Kampus Hijau Jagat ‘Arsy

Adiwiyata - The Green Campus

Sebagian besar dari kita pasti belum tahu bahwa sebelum sepopuler sekarang, biopori dulu namanya adalah mulsa vertikal. Mulsa vertikal dianggap “kurang” oleh kalangan media lalu diusulkan namanya “biopori” agar mudah diingat dan diucapkan, dan kala itu – sekitar tahun 2007 di IPB – Kamir Raziudin Brata, sebagai penemu, menyetujuinya. Hingga kini, nama tersebutlah yang digunakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “biopori” diartikan sebagai lubang buatan pada tanah yang diisi sampah organik untuk resapan air. Lebih luas, biopori ditafsirkan sebagai lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Ada banyak manfaat dari biopori ini, terutama untuk lingkungan dan ekologi secara umum, yaitu untuk memperluas bidang penyerapan air, sebagai penanganan limbah organik, dan meningkatkan kesehatan tanah. Pada konsep Kampus Hijau seperti yang diterapkan Pesantren Peradaban Dunia Jagat ‘Arsy, selain bermanfaat untuk tersebut, biopori ini juga berfungsi sebagai pelengkap pertanaman, sehingga secara arsitektural, lanskap di sekitar Jagat ‘Arsy menjadi lebih modern dan kekinian. Bahkan pada beberapa kampus terkenal, sejumlah BUMN, perusahaan swasta, stasiun televisi, biro surat kabar, hingga perumahan-perumahan elite, mereka berlomba-lomba membuat biopori untuk penghijauan, terlebih tema biopori pernah digaungkan oleh pemerintah pada Hari Bumi tahun 2014. Jadi, biopori ini kecil namun banyak manfaatnya. Ayo cintai bumi kita, suka bumi, bumi Indonesia, dengan biopori.

Comments

comments

Leave a Reply