JAGATARSY.SCH.ID – Ada pemandangan yang tak biasa jika Anda melangkah masuk ke Aula Bahrul Hayat awal Desember ini. Di sana, suara lantunan ayat suci tidak berdiri sendiri. Ia berpadu dengan bunyi klik IFP Smart Board, diskusi hangat tentang grafik statistik, dan aroma antusiasme dari para peneliti muda.

Mereka bukan mahasiswa pascasarjana. Mereka adalah santri SMP Pesantren Peradaban Dunia JAGAT ‘ARSY yang sedang menunaikan tugas intelektual mereka: Research Based Learning (RBL).
Selama ini, publik sering terjebak dalam stigma bahwa pendidikan pesantren hanya soal memindahkan teks kitab kuning ke dalam ingatan (rote learning). Jagat ‘Arsy memilih jalan berbeda. Di sini, santri tidak dididik untuk sekadar menjadi “perekam”, melainkan “pengolah”. Melalui RBL, mereka diajak keluar dari kenyamanan ruang kelas untuk menyapa realitas, bertanya pada alam, dan membedah masalah sosial dengan pisau analisis yang tajam.
Iqra’ yang Membumi

Mengapa anak usia SMP harus dipusingkan dengan riset? Jawabannya sederhana namun mendalam: Dunia tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang yang sadar.
RBL di Jagat ‘Arsy adalah upaya menerjemahkan perintah wahyu pertama, “Iqra” (bacalah), dalam makna yang paling luas. Santri diajarkan bahwa Ayat Qauliyah (firman Tuhan) dan Ayat Qauniyah (fenomena alam) adalah dua sisi mata uang yang sama.
Ketika seorang santri meneliti, dia sedang beribadah. Dia sedang menggunakan akal—anugerah terbesar Tuhan—untuk memecahkan teka-teki ciptaan-Nya. Inilah integrasi ilmu yang sesungguhnya; sains dan agama bukan lagi dua kutub yang berseberangan, melainkan sayap yang menerbangkan peradaban.
Dari Air Kelapa hingga Jeruk Nipis: Sains yang Memihak
Berjalan di antara stan presentasi mereka, Anda akan melihat wajah-wajah serius yang tengah mempertahankan argumen di depan penguji. Topik yang mereka angkat bukanlah teori awang-awang, melainkan solusi bagi masalah yang mereka lihat sehari-hari.
Lihatlah bagaimana satu kelompok dengan gigih memaparkan “Pemanfaatan Air Kelapa Sebagai Penyuplai Tanaman”. Di balik judul ilmiah itu, tersimpan keresahan murni khas anak muda tentang kerusakan tanah akibat pupuk kimia. Mereka tidak hanya mengeluh, mereka menawarkan solusi organik.
Di sudut lain, sekelompok santriwati dengan bangga menunjukkan botol sampel hasil riset campuran sereh dan jeruk nipis. Bagi mereka, nyamuk di asrama bukan sekadar gangguan, melainkan tantangan sains yang harus dijawab. “Ini repelan alami, aman, dan efektif,” argumen mereka, didukung data hasil uji coba lapangan.
Yang mengagumkan adalah ketertiban metodologi mereka. Istilah seperti simple random sampling, analisis kuantitatif, hingga validasi data meluncur fasih dari lisan mereka. Ini bukan sekadar tugas sekolah; ini adalah simulasi menjadi ilmuwan yang jujur.
Top 3: Apresiasi untuk Nalar Kritis
Tahun 2025 ini, kompetisi RBL berlangsung sangat ketat. Namun, dalam tradisi ilmiah, kita harus mengapresiasi mereka yang paling tangguh dalam menguji hipotesis dan paling jernih dalam menyajikan data.
Selamat kepada tiga srikandi peneliti muda yang berhasil meraih nilai tertinggi: 🥇 Azrilla Syelma Mazhar (91.7 A) 🥈 Adra Cyrella Savana (89.7 A) 🥉 Aisyah Naida (89.3 A)
Nilai di atas kertas hanyalah bonus. Kemenangan sesungguhnya adalah keberanian mereka untuk berpikir (reasoning), gagal, mencoba lagi, dan akhirnya menemukan kebenaran berbasis bukti.
Mencetak Generasi Ulul Albab
Di layar panggung utama, terpampang kalimat “Let’s build and brighten our future together.” Itu bukan sekadar slogan dekoratif. Itu adalah janji.
Kegiatan RBL ini adalah kawah candradimuka untuk membentuk mentalitas Ulul Albab—generasi yang zikirnya kuat saat berdiri maupun duduk, namun pikirannya tak pernah berhenti memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Mereka belajar ketangguhan (resilience) saat data tidak sesuai harapan. Mereka belajar kejujuran (integrity) saat harus melaporkan angka apa adanya. Dan yang terpenting, mereka belajar kolaborasi, menekan ego demi tujuan bersama.
Hari ini mereka meneliti jeruk nipis dan air kelapa. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, merekalah yang mungkin akan menemukan solusi bagi krisis pangan atau energi bangsa ini. Dan perjalanan besar itu, dimulai dari langkah kecil di Bahrul Hayat Hall hari ini.






