Over

120,000

Worldwide

Saturday - Sunday 08.00 - 17.00

Mon - Fri 8.00 - 18.00

Call us +6281 1154 3738

Vaksin atau Steril..

Pada tahun pelajaran 2018/2019 yang dimulai Juli lalu, kami mendapatkan jumlah santri boys dua kalilipat dari jumlah girls, baik SMP maupun SMA.

Disanalah satu obrolan santai, Ambu Jagat -bu Nyai-nya Jagat 😊- sempet menyampaikan, kira-kira fenomena apa yang melatarbelakangi hal ini.

Sebenarnya sih bisa saja hal itu tidak perlu kami bahas, tapi kalau cuek tanpa analisa bukan ambu namanya 😉

Obrolan kami mengerucut pada dua alasan besar, yaitu ketakutan orang tua akan lingkungan yang tidak positif dan juga kekhawatiran akan pengaruh gadget.

Dan rasanya dua hal ini juga menjadi ganjelan hati para orang tua demi melihat perkembangan anaknya.

Betul-kan ya?

Dua hal tersebut akhirnya terkonfirmasi dengan data yang dituliskan pada formulir pendaftaran dan juga proses interview untuk santri baru.

Ketakutan pertama banyak kami temukan di dokumen pendaftaran, sedangkan kekhawatiran akan gadget lebih banyak muncul dalam obrolan.

Sederhana luarnya tapi rumit dalamnya. Bakal seru pastinya..

Jika orang tua memutuskan menyekolahkan putra-putri tercinta di pesantren karena mencari lingkungan yang steril, saya agak ngeri. Khawatir ekspektasi yang tinggi tersebut akan kandas.

Di bagian ini pasti orang tua Pesantren Peradaban Dunia JAGAT ‘ARSY langsung terbelalak, shocking dan mungkin sedikit sebel 😙 karena harapanya mungkin kandas. Ngapain kami pesantrenkan kalau ternyata hasilnya sama saja?

Tenang bund, kalem, selow, minum dulu, siapin cemilan kesukaan dan mari kita lanjutkan.

Satu fakta yang harus diketahui para orang tua yang mem-pesantren-kan anaknya, bahwa pesantren adalah laboratorium kehidupan masyarakat dan bahwa anak kita tumbuh dan berkembang.

Dua alasan ini tolong dipegang erat-erat ya, jangan sampai meletus seperti balon dan tabung hijau. 😂

Karena jikalau fakta yang ditemukan orang tua berbeda dengan ekspektasi maka kembali kepada pasal yang dua hal tadi.

Sampai disini sudah tenang ya…

Next, kenapa pesantren disebut laboratorium masyarakat? Sederhana saja, karena semua yang ada pada masyarakat ada di pesantren.

Dipesantren anak-anak memiliki aturan, ada yang menepati ada yang melanggar. Ada yang melanggar karena “kecelakaan” yang tidak disengaja, ada juga yang melanggar dengan sengaja, yang masih level coba-coba-pun ada 😊

Lalu, kalau gitu salahkah orang tua memasukan anak ke pesantren? Jelas tidak, alasanya? Mari kita cek.

Jika sekolah reguler dan anak kita belum pulang pada waktu yang biasanya, hp di hubungi tidak aktif, saya yakin 100% bahwa orang tua menjadi tidak tenang dengan tingkat emosi cenderung meninggi.

Jika di pesantren, anak tidak masuk kelas, mungkin dia sedang ada di klinik atau ruang UKS. Paling banter dia tidur di kamar dengan sejuta alasan yang sudah disiapkan. Setidaknya keberadaanya jelas, tidak khawatir sedang kongkow di warung mana dan bersama siapa 😙

Selain itu jika di lingkungan pesantren, minimal anak kita insya Alloh menjaga sholatnya. Sebutlah anaknya unik sekali, saking uniknya dia agak jarang terlihat di masjid, tapi yakinlah meski tidak berjamaah di masjid dia akan sholat di kamarnya. 🤗

Ini bukan berarti yang sekolah pulang pergi tidak memiliki nilai plus.

Mereka yang setiap hari bersama orang tua berpeluang untuk selalu terpantau, meski kadang muncul sedikit ketegangan di beberapa hal.

Any way, apapun itu akan ada berbagai macam sisi, tergantung kaca mata mana yang kita pakai.

Pun pula, strategi pendidikan yang dilipihpun bisa berbeda antara satu anak dengan yang lainnya, antara satu keluarga dan juga tetangganya. 😊

Kembali tentang lingkungan yang steril.

Mustahil untuk menemukan lingkungan yang steril dan betul-betul kondusif positif dalam tumbuh kembang anak.

Karena apa?

Karena negatif dan positif akan selalu bersama, saling melengkapi dan saling menyertai.

Lalu pesantren?

Analogi kami memilih pesantren sebagai mitra dalam mengawal masa pertumbuhan anak adalah, seperti kita memberikan vaksin. Mengkondisikan kekebalan imun anak, hingga waktunya kuman dan pegaruh buruk dari negara api menyerang anak-anak memiliki kekebalan dan kemampuan untuk menghadapi itu.

Satu lagi yang tidak kalah penting.

Apa yang dipelajari anak saat ini, apa yang diajarkan oleh pesantren hari ini tidak untuk dipetik hari ini. Kalaupun bisa dinikmati hari ini, itu belum ending.

Ibarat besi, di pesantren mereka ditempa untuk nanti siap tampil sebagai senjata yang siap digunakan dan bermanfaat.

Pokoknya cerita tentang pendidikan dan pesantren, tidak akan ada habisnya..😊

-ms. Umam-

Leave a Reply


Latest Posts