Over

120,000

Worldwide

Saturday - Sunday CLOSED

Mon - Fri 8.00 - 18.00

Call us

 

Tamu Tak Diundang “Covid-19”

Pada 2 Maret 2020, Presiden Jokowi menyatakan bahwa ada dua orang warga Indonesia yang positif terjangkit virus Covid-19. Pernyataan ini menuai banyak respon dari masyarakat.

Awal mendengar berita ini aku masih menanggapinya dengan santai. Belum ada rasa khawatir dalam diriku. Setiap hari aku masih beraktifitas seperti biasa. Masih sering berinteraksi sama orang lain.

“Rin, udah denger berita belum tentang Covid-19?” Rina teman satu kontrakan denganku.

“Iya denger-denger udah sampai ke Indonesia. Presiden Jokowi mengumumkan ada dua orang positif Covid-19” jawab Rina.

Rina masih tetap beraktifitas seperti biasa seperti aku juga. Lembaga-lemabaga yang ada di Indonesia masih beroperasi seperti biasa. Begitupun sekolah tempat dimana aku kerja yaitu Pesantren Jagat ‘Arsy.

Hingga tibalah saat itu kondisi semakin memburuk, Covid-19 menyebar begitu cepat. Tidak mengenal usia, waktu, dan tempat. Baik itu kalangan bawah maupun kalangan atas. Covid-19 datang seperti badai yang akan meluluhlantakkan semua sendi kehidupan.

Dua minggu setelah itu, keluarlah Surat Keputusan dari pemerintah untuk meliburkan semua sekolah.  Bekerja dari rumah dan belajar dari rumah. Work From Home and Learn From Home.

Menindaklanjutti surat edaran dari pemerintah, pimpinan Pesantren Jagat ‘Arsy menginformasikan bahwa anak-anak diliburkan. Saat itu Wakil Kepala sekolah kami  Ms. Umami memberikan informasi lewat grup whatsapp.

Pada 22 Maret 2020, semua santri di Pesantren Jagat ‘Arsy dipulangkan. Semua santri kembali ke rumah masing-masing.

Mulai saat itu semua proses belajar mengajar langsung berbalik arah. Pembelajaran yang biasanya dilaksanakan di kelas bersama siswa sekarang dilaksanakan dalam bentuk daring. Kami dari tataran guru melaksanakan meeting untuk membahas projek-projek yang akan dicapai siswa selama LFH.

Rentang seminggu setelah itu, ternyata pimpinan sekolah mengeluarkan informasi terbaru bahwa guru-guru juga akan bekerja dari rumah, mengajar dari rumah.

Work From Home. Aku sebenarnya kurang tertarik untuk bekerja dari rumah, mengajar siswa lewat internet. Karena aku lebih suka mengajar secara langsung face to face. Yaaa ini sudah menjadi keputusan, langkah terbaik untuk saat ini.

Covid-19 datang mengobrak-abrik segala sendi kehidupan masyarakat.

“Hal sebenarnya yang paling ditakutkan itu bukanlah Covid-19 nya tapi dampak yang ditimbulkan oleh virus ini termasuk dampak sosial ekonomi. PHK dimana-dimana dan kelaparan” penjelasan Abah Jagat selesai sholat Ashar di kanzul.

Tujuh minggu sudah kita melaksanakan WFH dan LFH ini. Hari demi hari berputar dengan jadwal yang sama hampir setiap harinya. Setiap hari kita mengadakan briefing lewat aplikasi Zoom. Untuk guru dilaksanakan dua kali yaitu pagi dan sore. Untuk siswa dilaksanakan tiga kali sehari; pagi, siang dan sore. Melalui aplikasi inilah kita melaksanakan proses pembelajaran.

Tidak menutup kemungkinan siswa maupun guru akan tiba saatnya dimana bosan dengan rutinitas setiap hari yang dilakukan di rumah.

“Ms (panggilan untuk guru)…sampai kapan sih kita seperti ini?” tanya salah satu siswa di grup kelas.

“Iya sampai semuanya membaik” jawabku.

“Kita bosen Ms?” sahut siswa yang lain.

“Kita capek Ms, tugas banyak banget yang mau dikerjain” sahut siswa yang lain.

Memasuki minggu ke tujuh pelaksanaan LFH, siswa sudah mulai rame berkoar di grup. Sebenarnya mereka udah rindu belajar di kelas bersama teman-temannya.

Pak Menteri menyampaikan dalam videonya saat hari pendidikan nasional, bahwa inilah saatnya orang tua berempati terhadap guru. Tugas guru itu sebenarnya tidaklah mudah. Harus ada kerjasama antara siswa, guru, dan orang tua. Inilah yang sebenarnya pendidikan itu.

Saat LFH, para orang tua harus siap menjadi guru bagi anak-anaknya di rumah. Anak-anak yang biasanya mondok di pesantren, semuanya dilakukan oleh guru. Sekarang mondoknya di rumah, so pasti orang tua harus siap menjadi guru untuk anak-anaknya. Bisa disebut dengan Rumahku Pesantrenku. Bapak adalah Kiyainya dan Ibu adalah Nyainya.

Dari Covid-19 kita bisa banyak belajar. Tidak mungkin Allah menghadirkan masalah kecuali beserta solusi dan hikmahnya. Selama masa lockdown, aku belajar muhasabah diri. Bagaimana kita mengambil hikmah dibalik datangnya tamu Covid-19 ini.

Rasa syukur tak terhingga kepada Allah, sampai saat ini Allah masih mengizinkan aku untuk tetap bekerja. Disaat diluar sana banyak yang di PHK akibat Covid-19 ini. Tidak mungkin Allah memberi kesempatan kepada aku untuk kembali ke Jagat tanpa ada rencana yang baik dibalik ini semua.

“Diluar sana udah banyak karyawan yang di PHK. Kita bersyukur masih bisa berdiri disini” ujar Abah Jagat.

Seperti tamparan buat aku mendengarkan pernyataan Abah. Kurang baik apalagi Allah, melalu sekolah ini Allah masih melancarkan rezeki. Tanpa pemotongan gaji, pemangkasan karyawan. Abah dan Ambu Jagat adalah panjang tangan dari Allah untuk menyelamatkan kami disaat pandemi ini.

Terima kasih Allah.

Teruntuk engkau makhluk Allah yang bernama Covid-19, jika engkau disini atas izin dari Allah untuk melaksanakan tugas mu dibumi ini. Segeralah pulang seandainya tugas kamu udah selesai. Kami rindu tarawih bersama, kami rindu baitullah. Kami ingin merayakan hari kemenangan bersama-sama tanpa dihantui rasa ketakutan seperti ini.

Wahai Covid-19 pulanglah segera. Engkau datang tanpa kami undang, dan segeralah pergi tanpa kami antar. Sudah cukup, lebih kurang tiga bulan waktu engkau habiskan bersama kami. Disini bersama Covid-19.

Pulanglah.

 

***

Oleh, Afri Santi

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: