Over

120,000

Worldwide

Saturday - Sunday CLOSED

Mon - Fri 8.00 - 18.00

Call us

 

Berkah Dan Khidmah

Bismillahirrahmanirrahiim


Salah satu moment mengharukan selama membersamai santri di Pesantren Jagat `Arsy adalah moment wisuda, perasaan sedih, takut dan haru menjadi satu pada saat seperti itu. Sedih karena kebersamaan dengan kelas akhir segera beakhir. Takut memikirkan bagaimana mereka di luar sana, apakah sholatnya terjaga, apakah amaliyahnya terpelihara dan apakah bekal yang didapat selama di pesantren Jagat `Arsy mampu menjadi bekal untuk bisa selamat di belantara akhir zaman yang terus berubah dan berkembang. Haru karena terkenang dengan hal-hal yang penah dilalui bersama sekaligus haru karena mereka berpamitan dengan berbagai macam gaya dan kata-kata perpisahan. “Miss. Maafkan saya, agar hidup saya berkah”, sampai saat ini, kata-kata pamitan sejenis ini yang masih terkenang dan selalu saya aminkan.

Berkah adalah istilah yang dekat dengan dunia pesantren dan erat kaitannya dengan adab utamanya terhadap Kyai dan juga guru. Istilah lain yang biasa digunakan adalah istilah “ngalap berkah” yang berasal dari bahasa jawa, dan juga “tabaruk” yang berasal dari bahasa arab, dimana keduanya memiliki makna yang sama yaitu berharap akan berkah. Berkah berasal dari bahasa Arab “barokah” yang berarti  berkembangnya atau bertambahnya sesuatu.  Berkah  dalam Al-Qur’an dan hadis bermakna  langgengnya kebaikan, bertambah kebaikan, atau bisa kedua-duanya.

Menurut Imam Al-Ghazali, berkah adalah bertambahnya kebaikan. Sementara para ulama mendefinisikan berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, meliputi berkah secara material dan spiritual, seperti kesehatan, ketenangan, keamanan, harta, usia, dan juga anak. Jadi, pada intinya berkah adalah langgengnya kebaikan atau bertambahnya kebaikan, atau dalam istilah dalam bahasa Arabnya adalah ziyadatul khoir, atau ziyadatu fil khoir. Tidak heran jika Guru Agung Pangersa Abah Aos hampir selalu mengakhiri setiap ceramah beliau pada moment manakib dengan doa berkah semuanya, segalanya, selamanya, yang kemudian diaminkan oleh semua ikhwan dengan perasaan suka cita.

Bagi seorang murid, berkah guru menjadi kunci untuk kesuksesan hidupnya, sama halnya dengan berkah kyai yang akan menjadi pembuka bagi kemudahan serta kebahagiaan kehidupan para santri. Tak heran jika dalam tradisi pesantren menghormati guru dan kyai mendapatkan penekanan yang lebih besar dibanding dengan kegiatan yang lainnya, sebagaimana yang sedang digalakkan di Pesantern Jagat `Arsy.

 Bentuk adab santri terhadap guru dan kyai dapat dilakukan dengan berbagai banyak cara, umumnya yang dilakukan di lingkungan pesantren adalah menghentikan segala aktivitas dan menunduk ketika kyai sedang lewat, menahan semua suara ketika kyai dengan berbicara, selalu berbaik sangka kepada guru dan kyai, tidak menggunjingkan guru dan kyai, berbicara dengan lembut dan sopan kepada guru dan kyai, tidak menduduki tempat duduk guru dan kyai, berebut merapihkan sandal Kyai, istiqomah sholat berjamaah, menjalankan nasehat yang diberikan, termasuk berebut minuman atau makanan yang sebelumnya dinikmati atau dihidangkan untuk para Kyai, semuanya karena satu alasan yaitu tabaruk atau ngalap berkah.

Salah satu budaya yang erat hubungannya dengan berkah adalah khidmah, banyak kisah yang menceritakan tentang berkah dari seorang yang berkhidmah, lebih dari itu  budaya khidmah di pesantren ini telah dicontohkan oleh ulama-ulama Nusantara sejak dulu, seperti yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama) yang berebut dan bersaing dulu-duluan menata sandal Kyai, saat beliau berdua  mondok dan berguru kepada Kiai Sholeh Darat Semarang.

Begitu juga ketika KH. Hasyim Asyari nyantri di Bangkalan, Madura. Suatu ketika beliau melihat KH. Syaikhuna Kholil bersedih dan tidak bisa mengajar seperti biasanya. KH. Hasyim Asy’ari pun mencari tahu penyebab kesedihan gurunya tersebut. Setelah Kiai Hasyim Asy’ari tahu bahwa KH. Syaikhuna Kholil bersedih dikarenakan cincin Bu Nyai jatuh didalam WC (tempat penampungan tinja), tanpa pikir panjang Kiai Hasyim langsung terjun ke pembuangan tinja, mencari cincin Bu Nyai sampai akhirnya ketemu.

Tak beda dengan yang dilakukan oleh syekh Ahmad Kanji, yang merupakan murid Tuan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani yang menghabiskan waktunya untuk berkhidmah dengan mencari kayu bakar dan juga membuatkan roti untuk orang miskin, dan karena khidmah dan kecintaan beliau kepada Tuan Syekh Abdul Qodir Al-Jailani beliau diangkat menjadi rijalulloh dan mendapatkan mahkota dari Tuan Syekh.

Cerita tentang khidmah seperti ini, selayaknya menjadi renungan sekaligus motivasi bagi para santri, bahwa dalam menuntut ilmu, selain belajar tentang ilmu pengetahuan, wajib hukumnya diimbangi dengan berkhidmah untuk belajar kehidupan, yaitu ta’dzim terhadap guru, kiai dan juga ulama. Dengan disertai khidmah, transfer ilmu pengetahuan dalam proses pembelajaran tentu akan menjadi lebih berkah, berbeda dengan yang hanya belajar saja tanpa khidmah. Mungkin kurangnya keberkahan ini juga yang menjadi salah satu penyebab banyaknya generasi muda yang secara pendidikan tinggi tapi rendah secara kebermanfaatan hidup. Pendidikan tinggi tapi rendah adab, pendidikan tinggi tapi rendah kepedulian terhadap orang lain.

Rasanya tepat sekali apa yang sering didawuhkan oleh Abah Jagat, jika yang dicari hanya ilmu, jika yang dicari hanya pengetahuan, maka tidak perlu pesantren, maka tidak perlu, cukup tanyakan ke google maka akan dapat semua jawaban. Satu yang harus difahami oleh santri, guru dan juga orang tua, bahwa proses berpesantren tidak hanya belajar ilmu pengetahuan tetapi belajar kehidupan dengan adab dan khidmah. Bukan ilmunya yang dicari, tetapi cahaya dan keberkahan ilmulah yang harus diraih melaui proses khidmah. Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani, beliau berkata, “yang dikatakan murid menurutku adalah seseorang yang belajar sekaligus berkhidmah, barang siapa yang tulus berkhidmah, maka Allah akan membukakan baginya pintu kebaikan”, senada dengan qoul tersebut adalah qoul yang sudah familiar dikalangan para ikhwan murid pangersa Abah Aos “siapa yang banyak khidmahnya, wajib mendapatkan karomahnya” dam karomah adalah berkah nyata seorang guru.

Kyai Jujun Junaidi dalam ceramah beliau pada salah satu moment manakib di Pesantren Sirna Rasa menyampaikan, bahwa ada tiga cara untuk berkhidmah, khidmah bin-nafs, yaitu khidmah dengan fisik atau tenaga. Khidmah ini bisa di lakukan dengan hal-hal kecil, seperti merapikan sandal kiai, mencuci mobil kiai, menyiapkan kebutuhuhan kyai atau yang lebih besar dari itu. ‌Khidmah kedua adalah khidmah bil-maal, yaitu khidmah dengan harta. Khidmah yang semacam ini mungkin belum bisa dilakukan santri ketika di sedang belajar di pesantren, karena belum berpenghasilan, namun bisa dilakukan kelak ketika telah memiliki sumber finansial sendiri. Khidmah ketiga adalah khidmah bid-du’a, yaitu khidmah dengan cara mendoakan guru dan kyai. Mendoakan guru termasuk adab penuntut ilmu atau murid, maka sebagai murid sudah seharusnya selalu mendoakan guru layaknya seorang anak mendo’akan orang tuanya, karna guru adalah pendidik ruhani. Sama wajibnya santri membaca al-fatihah sebelum mulai mengaji sebuah kitab.

Santri wajib menjaga adab dan ikhlas berkhidmah kepada guru dan kyai untuk keberkahan hidup dunia dan akhiratnya. Mengucapkan  maaf dan terima kasih adalah  adab kepada guru pada level yang paling  sederhana, saking sederhananya banyak yang kemudian lupa untuk melakukannya. Oleh karenanya gerakan mengucapkan “thank you coach for teaching us today” saat guru selesai mengajar mestinya digalakkan kembali dilingkungan pesantrean Jagat `Arsy, sama halnya dengan “Thank you coach for helping and caring us today” yang disampaikan kepada coaches yang yang bertugas di asrama setiap hendak berangkat sekolah. Sejatinya, hal ini  bukan untuk guru, tetapi untuk melatih sense of khidmah dan adab santri kepada guru.

Moment mengucapkan Selamat hari guru pada 25 November 2020 ini, harapanya menjadi moment kesadaran bagi para santri untuk terus belajar khidmah dengan menerapkan adab, kepada seluruh coaches yang ada di Jagat `Arsy. Qoul Sayyida Ali “Aku adalah budak (hamba saya) bagi orang yang mengajariku walau hanya satu huruf”, menegaskan bahwa semua coach di Pesantren Jagat `Arsy adalah guru, meskipun tidak selalu mengajar di kelas, meskipun tidak bertatap muka dalam proses pembelajaran, karena dalam sapa beliau ada cinta, dalam senyum beliau ada do`a dan dalam perkataanya banyak ilmu bagi santri yang memperhatikan dengan kesugguhan yang sebenarnya.

Alloh berkahi kita, semuanya, segalanya, selamanya. Amiiin

Jagat `Arsy,1 Desember 2020

Coach. Umami

Noted: Ditulis sebagai prolog Surat Cinta Untuk Coaches yang sudah diterbitkan

Comments

comments

Previous

Next

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *