Over

120,000

Worldwide

Saturday - Sunday CLOSED

Mon - Fri 8.00 - 18.00

Call us

 

Anak Surga atau Anak Neraka?

Awal tahun 2020 ini dunia mengalami perubahan drastis, bahasa kerennya adalah dunia telah terbalik. Jika sebelumnya kita menghabiskan waktu di luar rumah, saat ini kita dikondisikan untuk memulai dan menyelesaikan semuanya didalam rumah. Baik itu bekerja, belajar maupun beribadah, dan banyak hal lain yang disesuaikan karena imbas covid 19 yang memaksa kita tidak kemana-mana.

 

Kondisi yang tidak terelakkan ini menuntut kreativitas kita para orang tua, karena semua kegiatan dan aktivitas anggota keluarga berlangsung di sekitar rumah. Akan berbeda jika ini adalah musim liburan, karena akan bebas dari tuntutan yang harus dilaporkan sebagai hasil proses belajar maupun bekerja.

 

Bagi keluarga dengan balita, mungkin tidak banyak adaptasi, karena keseharian balita memang sudah biasanya dilakukan di rumah dan tidak banyak perubahan dalam ritme keseharian. Namun jika ananda kita dalam usia sekolah maka akan banyak sekali adaptasi disana-sini termasuk pola komunikasi dan juga perkara mengontrol emosi.

 

Meskipun pada dasarnya tugas mendidik anak merupakan tugas utama orang tua, namun proses pelembagaan sistem pendidikan melalui sekolah, sedikit banyak mempengaruhi kesiapan orang tua dalam melakukan tugas utama tersebut. Sehingga muncul sedikit kegagapan bagi sebagian orang tua ketika proses belajar anak dipindahkan ke rumah.

 

Tentu saja ini bukan masalah suka atau tidak suka, namun ada beberapa peran baru yang ternyata cukup menguras energi orang tua, salah satunya adalah peran menjadi guru sekaligus teman belajar anak. Proses ini sejatinya proses yang sangat menyenangkan, namun fakta bahwa tidak setiap anak semangat mengikuti pelajaran dan menyelesaikan target dan tugas hariannya menjadi dinamika tersendiri yang memerlukan solusi.

 

Gaya Komunikasi Surga dan Neraka

 

Banyak teori parenting yang membahas tentang komunikasi antara anak dan orang tua, yang tentu saja memiliki spesifikasi dan kekhususan tertentu dan berbeda untuk setiap usianya. Namun efektivitas dan strategi pola komunikasi yang bermacam-macam ini untuk bisa dikatakan berhasil, ternyata  membutuhkan jam terbang dan juga berbagai macam pendekatan.

 

Artinya apa yang dilakukan oleh orang tua A belum tentu berhasil ketika dipraktekan oleh orang tua B. Lebih dari itu, satu orang tua dengan pola komunikasi yang berhasil diterapkan kepada anak X belum tentu sesuai diterapkan di anak Y.

Gaya komunikasi surga dan neraka seperti yang ada dalam al-Qur`an bisa menjadi alternatif sebagai strategi dalam komunikasi. Ada sebagian kita yang tergerak untuk lebih rajin dengan mempelajari atau sekedar mengingat tentang acaman siksa neraka dan ada juga yang menjadi lebih bersemangat ketika mempelajari ayat-ayat yang berbicara tentang nikmat surga.

 

Meskipun ada beberapa dari kita yang oke-oke saja dengan keduanya, artinya tetap tergerak dan menjadi lebih bersemangat karena  ancaman neraka maupun iming-iming surga. Namun jika kita oke-oke saja tapi tidak tergerak untuk melakukan perubahan mungkin kita sudah mati rasa. Naudzubillah min dzalik.

 

Dalam komunikasi sehari-hari, secara sederhana neraka dapat diartikan dengan menggunakan pendekatan negatif sedangkan surga menggunakan pendekatan positif. Pendekatan negatif bukan berarti menggunakan kata-kata kasar, marah-marah ataupun perilaku negatif lainnya, tapi yang kita kedepankan adalah efek negatif atau sisi yang tidak enak, yang tidak nyaman. Sedangkan pendekatan positif dengan memunculkan efek positif, sisi yang enak dan yang nyaman. Contoh praktisnya sebagaimana dalam kasusu berikut:

  • Untuk kasus ketika anak tidak mengerjakan PR misalnya,
  • Sisi neraka / Negatif

“kalau kakak tidak mengerjakan PR nanti nilai kakak jelek lho..”

  • Sisi surga / Positif

“kak, kerjain PR yuk, pasti nanti nilai kakak akan bagus”.

 

  • Contoh kasus ketika anak terlalu lama menggunakan HP, misalnya
  • Sisi neraka / Negatif

“Kakak tahu ngga, kalau pakai HP kelamaan itu nanti mata bisa sakit lho, dan kalau mata sakit ngga bisa lihat, ngga bisa lihat TV, ngga bisa lihat pemandangan, ngga bia main”

  • Sisi surga / Positif

“Kak, kalau kakak main HP-nya sudah nanti matanya tetap sehat, tetap bisa lihat TV, tetep bisa main”

 

Dan tentu masih banyak lagi contoh lainnya.

 

Satu hal yang perlu menjadi perhatian kita para orang tua adalah, bahwa gaya dan juga strategi komunikasi, apapun itu pendekatanya bukanlah seperti baju baru yang sekali fiting bisa ketahuan pas atau belum. Melainkan lego yang selalu dibongkar, dipasang dan dicoba terus-terusan sehingga menemukan polanya yang pas untuk kemudian menjadi sebuah bentuk mainan.

 

Lalu bagaimana kita mengetahui kita termasuk gaya surga, neraka atau keduanya?

Setidaknya terdapat dua cara untuk bisa mengetahui kecenderungan tersebut. Yang pertama melalui observasi dan yang kedua menggunakan alat tes. Observasi tentu memebutuhkan waktu yang tidak sebentar dan pengamatan yang inten dan jika ingin menginginkan hasil yang cepat, memilih menggunakan alat tentu akan lebih tepat.

 

Observasi sederhana bisa dilakukan dengan melihat respon anak. Sebaiknya dalam waktu tertentu orang tua menggunakan pendekatan tertentu secara terus menerus. Misalnya satu atau dua hari pertama menggunakan pendekatan negatif, lalu satu atau dua hari berikutnya mencoba menggunakan pendekatan positif, dan kemudian mari bandingkan hasilnya. Mungkin hasil yang muncul bisa efektif untuk digunakan.

 

Jika ingin menggunakan alat tes, salah satu alat tes yang menggunakan pendekatan ini adalah STIFIn. Jika hasil tes menunjukan PG yang intovert atau belakanganya “i” maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan neraka. Dan sebaliknya jika PG yang muncul adalah ekstrovert atau yang belakangnya “e” maka pendekatan yang tepat adalah pendekatan surga. Dan jika yang muncul adalah PG Insting, tanpa “i” atau “e” dibelakang, maka bisa menggunakan keduanya.

 

Yang perlu dijadikan catatan, bahwa konsep intovert dan ekstrovert dalam STIFIn berbeda dengan introvert dan ekstovert dalam psikologi pada umumnya. Introvert dalam psikologi umum merujuk pada pribadi yang tertutup dan ekstrovert sebaliknya, sedangkan konsep STIFIn menempatkan intovert dan ekstrovert sebagai sumber stimulan dan motivasi. Jika introvert jalan motivasinya dari dalam diri sedangkan ekstrovet berasal dari luar diri.

 

Untuk bisa berkomunikasi secara optimal dengan anak, syarat utama bagi orang tua adalah adalah bahagia dengan peran yang diemban sebagai orang tua. Bahagia berperan ini sejalan dengan proses kedirian yang telah selesai, sehingga memiliki sense of giving tang tinggi, karena berbicara menjadi orang tua berarti berbicara memberi tanpa berharap kembali.

Alloh mudahkan ikhtiar kita membersamai anak-anak kita tercinta menemukan versi terbaik mereka. Alloh berkahi semuanya, segalanya, selamanya. Amiiin

 

Duta Kranji, 1 Mei 2020

 

-Miss. Umami-

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: